Selasa, 29 Mei 2012







henna

Henna Inai Body Art

26Sep10
Keindahan dan perempuan, dua hal yang bertaut erat setua relasi antara keduanya. Muskil memisahkan perempuan dari keindahan. Perempuan bebas mendandani dan mempercantik diri sesuai suasana hatinya. Henna menjadi salah satu peranti memperelok ragawi perempuan, jauh sebelum bedak tabur, eye shadow dan perona bibir ditemukan.
Henna Inai Body Art
Henna Inai Body Art
Adalah Henna, tumbuhan yang memiliki nama latin Lawsonia inermis dan telah digunakan selama beratus tahun yang lalu sebagai tattoo kecantikan dan dimanfaatkan sebagai obat di dunia medis. Tanaman Henna kebanyakan tumbuh di daerah timur tengah, Afrika, dan Australia ini pohonnya setinggi 2-6 meter dengan batang dan daun yang cukup lebat. Henna punya bunga berwarna putih dan buah-buahan kecil berwarna cokelat yang bentuknya seperti kapsul. Di dalam buah tersebut terdapat banyak biji-bijian.
Saat ini Henna banyak dibudidayakan di India, Bangladesh, Pakistan, Moroko, Yaman, Iran, Afghanistan, Somalia, Tunisia, Libya, Arab Saudi dan Mesir. Dan di dunia fashion, Henna dikenal sebagai tattoo yang menghiasi tubuh wanita dengan sangat indah. Jika tattoo lain diaplikasikan pada tubuh dengan jarum, tattoo Henna ini justru lebih simple dan tidak sakit, karena biasanya tattoo Henna diaplikasikan dengan kuas khusus atau langsung dari tube-nya.
Di dunia Arab, henna merupakan simbol dari keberuntungan, kesehatan dan sensualitas. Untuk itu, para wanita seringkali membuat pasta dari daun henna yang telah dikeringkan untuk menghiasi tangan dan bagian tubuh mereka, yang konon dipercaya dapat mengusir setan, menarik energi baik, dan menyuburkan. Hingga saat ini, para pengantin di India dan Pakistan, masih menghias tangan dan tubuhnya dengan Henna. Kabarnya, dengan demikian maka mertua mereka akan senang menerima mereka.
Bahkan hingga kini, henna masih menjadi peranti andalan perempuan memperindah ragawinya. Kebiasaan perempuan di sejumlah negara di Afrika dan Asia, seperti Yaman, Sudan, Libya, Turki, Maroko, India, Bangladesh, Pakistan, juga Malaysia yang masih memanfaatkan henna untuk mempercantik diri. Bedanya, jika dahulu henna dimanfaatkan perempuan secara alami dengan mengolahnya sendiri. Kini, cara tradisional tersebut sudah dipermudah dengan henna yang diproses menjadi bubuk. Praktis dan efisien.
Selain dimanfaatkan sebagai pewarna raga, henna juga dipergunakan sebagai bahan pewarna rambut. Itu karena, jenis tumbuhan berbunga yang banyak tumbuh di seluruh benua Afrika, Asia bagian selatan dan sedikit di sebelah utara Australia mengandung molekul lawsone yang banyak terdapat di daun henna.  Henna menghasilkan molekul lawsone warna merah dan oranje kaya kandungan protein. Inilah yang dimanfaatkan dunia kecantikan memberi sentuhan warna untuk kulit, rambut, kuku, selain digunakan untuk menyamak produk fashion dari bahan kulit binatang, sutera dan wool.
Pemakaian henna sendiri dalam kebudayaan dan sejarah manusia di India sudah dikenal 400 Masehi untuk memberi warna pada rambut. Di kerajaan Romawi juga mengenal pemakaian henna, selain di Spanyol. Bahkan dalam lembar papirus pun pemakaian henna sudah dikenal sejak abad 16 SM. Juga di Syria dan Mesir di abad 14 SM, Ibn Qayyim al-Jawziyya sudah memanfaatkan henna sebagai bahan obat-obatan. Sementara di Maroko, henna dimanfaatkan untuk memberi ornamen warna pada wool dan produk berbahan kulit lainnya. Selain digunakan sebagai bahan pengusir serangga dan mencegah jamur dan lapuk.
Meski di berbagai negara henna memiliki nama berbeda, namun aplikasi henna nyaris sama, hanya tradisi yang membedakannya. Perempuan memilih memakai bubuk henna sebagai peranti mempercantik dirinya untuk pergaulan sosial dan merayakan hari besar. Tradisi di sebagian negara seperti mewajibkan perempuan menorehkan motif indah dengan pasta henna menandai kedewasaan atau melepaskan status lajang. Tradisi yang masih dipertahannkan hingga detik ini. Dunia fashion mengadopsinya sebagai tren mempercantik diri, kapanpun sesuai suasana hati dan keinginan perempuan.
Di nusantara aplikasi henna telah di kenal sejak lama, beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatera menggunakan henna untuk menghiasi kuku, lengan dan kaki para calon pengantin wanita. Selain dengan maksud lebih mempercantik, aplikasi henna diyakini mampu melindungi penggunanya dari berbagai gangguan. Tradisi juga menyebutkan, pemakaian henna untuk melukis ragawi mereka sama seperti berkah atau karunia, sekaligus keberuntungan, kegembiraan dan kecantikan.    Henna Inai Body Art

Jumat, 25 Mei 2012

Majas (figurative language) adalah bahasa kias, bahasa yang dipergunakan untuk menciptakan efek tertentu. Majas merupakan bentuk retoris, yang penggunaannya antara lain untuk menimbulkan kesan imajinatif bagi penyimak atau pembacanya. Secara garis besar, majas-majas tersebut terbagi dalam majas perbandingan, pertentangan, pertautan, dan perulangan
Majas Perbandingan
a. Asosiasi (simile) adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama. Majas ini ditandai oleh penggunaan kata bagai, bagaikan, seumpama, seperti.
Contoh : Semangatnya keras bagaikan baja.
Wajahnya bagai bulan purnama
b. Metafora adalah majas perbandingan yang diungkapkan secara singkat dan padat.
Contoh : dia dianggap anak emas majikannya.
Perpustakaan adalah gudang ilmu.
c. Personifikasi adalah majas yang membandingkan benda-benda tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat seperti manusia.
Contoh : Badai mengamuk dan merobohkan rumah penduduk.
Daun kelapa melambai-lambai di tepi pantai.
d. Alegori adalah cerita kiasan atau lukisan yang mengiaskan hal lain atau kejadian lain.
Contoh : Puisi “Diponegoro” karya Sanusi Pane.
Majas Pertentangan
a. hiperbola adalah majas yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan dengan maksud untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan daya pengaruh.
Contoh : Saya terkejut setengah mati mendengar perkataannya.
Tubuhnya kurus kering setelah ditinggalkan oleh ayahnya.
b. Litotes adalah majas yang ditujukan untuk mrngurangi atau mengecil-ngecilkan kenyataan sebenarnya. Tujuannya antara lain untuk merendahkan diri.
Contoh : Kami berharap Anda menerima pemberian yang tidak berharga ini.
Gajiku tak seberapa, hanya cukup untuk makan anak dan istri.
c. Ironi adalah majas yang menyatakan makna yang bertentangan dengan maksud untuk menyindir atau memperolok-olok.
Contoh : Bagus sekali rapormu, Andi, banyak angka merahnya.
Rajin sekali kamu, lima hari kamu tidak masuk sekolah.
d. Sinisme adalah majas yang menyatakan sindiran secara langsung dan agak kasar.
Contoh : Perkataanmu tadi sangan menyebalkan. Kata-kat itu tidak pantas disampaikan orang terpelajar seperti kamu!
Bisa-bisa aku jadi gila melihat kelakuanmu itu!
e. Sarkasme adalah sindiran kasar berupa ungkapan kasar yang dapat menyakitkan hati orang.
Contoh : Tidurnya saja sehari-hari seperti babi.
Kamu ini benar-benar goblok, bebal, otaku udang.
Majas Pertautan
a. Metonomia adalah majas yang memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan nama orang, barang, atau hal lainnya sebagai penggantinya. Kita dapat menyebut penciptanya atau pembuatnya jika yang kita maksudkan adalah ciptaan atau buatannya. Bisa pula kita menyebut bahan dari barang yang dimaksud.
Contoh : Ayah baru saja membeli zebra, padahal saya ingin Kijang.
Coba buka H.B.Jassin halaman 23..
b. Sinekdok Pars Pro Toto adalah majas yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhannya.
Contoh : Setiap kepala dikenakan biaya.
Dia membeli dua ekor ayam
c. Sinekdok Totem Pro Parte adalah menyebutkan keseluruhan untuk pengganti sebagian saja.
Contoh : Semoga Indonesia menjadi juara Thomas Cup
Desa itu diserang muntaber.
d. Alusio adalah majas yang menunjuk secara tidak langsung pada sustutokoh atau peristiwa yang sudah diketahui bersama.
Contoh : Banyak korban berjatuhan akibat kekejaman Nazi
Apakah setiap guru harus bernasib seperti Umar Bakri?
e. Elipsis adalah majas yang di dalamnya terdapat penghilangan kata atau bagian kalimat.
Contoh : Dia dan ibunya ke Tasikmalaya (penghilangan predikat pergi)
Lari! (penghilangan subjek kamu)
f. Inversi adalah majas yang dinyatakan oleh pengubahan susunan kalimat.
Contoh : Paman saya wartawan = Wartawan, paman saya.
Dia datang = Datang dia
Majas Penegasan/Perulangan
a. Pleonasme adalah majas yang menggunakan kata-kata secara berlebihan dengan maksud untuk menegaskan arti suatu kata.
Contoh : Mereka turun ke bawah untuk melihat keadaan barang-barangnya yang jatuh.
Dukun itu menengadah ke atas sambil menengadahkan tangannya.
Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri.
b. Klimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut yang makin lama makin menghebat.
Contoh : Semua jenis kendaraan, mulai dari sepeda, motor, sampai mobil bejejer di halaman.
Baik itu RT, Kepala Desa, Camat, Bupati, Gubernur, maupun Presiden memiliki kedudukan sama di mata Tuhan.
c. Antiklimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut yang makin lama makin menurun (melemah)
Contoh : Bapak Kepala Sekolah, Para guru, dan murid-murid, sudah hadir di lapangan upacara.
Gedung-gedung, rumah-rumah, dan gubuk-gubuk, semuanya mengibarkan Sang Saka Merah Putih.
d. Retoris adalah majas yang berupa kalimat Tanya yang jawabannya itu sudah diketahui oleh penanya. Tujuannya untuk memberikan penegasan pada masalah yang diuraikannya, untuk meyakinkan, ataupun sebagai sindiran.
Contoh : Siapa yang tidah ingin hidup bahagia?
Apa ini hasil dari pekerjaanmu selama bertahun-tahun?
e. Aliterasi adalah majas yang memanfaatkan kata-kata yang bunyi awalnya sama.
Contoh : Dara damba daku, datang dari danau.
Inilah indahnya impian, insan ingat ingkar.
f. Antanaklasis adalah majas yang mengandung ulangan kata yang sama, dengan makna yang berbeda.
Contoh : Karena buah penanya yang controversial, dia menjadi buah bibir masyarakat.
Kita harus saling menggantungkan diri satu sama lain. Jika tidak, kita telah menggantung diri.
g. Repetisi adalah majas perulangan kata-kata sebagai penegasan dalam kalimat yang berbeda.
Contoh : Terlalu banyak penderitaan menimpa dirinya. Terlalu banyak masalah yang dihadapinya. Terlalu banyak.
h. Tautologi adalah majas perulangan kata-kata sebagai penegasan dalam sebuah kalimat.
Contoh : Selamat datang pahlawanku, selamat datang pujaanku, selamat datang bunga bangsaku.
i. Paralelisme adalah majas perulangan sebagaimana halnya repetisi, hanya disusun dalam baris yang berbeda. Biasanya terdapat dalam puisi.
Contoh : Sunyi itu duka
Sunyi itu kudus
Sunyi itu lupa
Sunyi itu mampus
j. Kiasmus adalah majas yang berisi perulangan dan sekaligus menganduk inverse.
Contoh : Yang kaya merasa dirinya miskin, sedangkan yang miskin merasa dirinya kaya.
Dalam kehidupan ini banyak orang intar yang mengaku bodoh, dan orang bodoh banyak yang merada dirinya pintar.
B. UNGKAPAN
Ungkapan atau idiom, yaitu perkataan atau sekelompok kata yang khusus untuk menyatakan sesuatu maksud dalam arti kiasan.
Contoh : Buah ratap = isi ratapan
Buah baju = kancing
Buah pena = karangan
C. PERIBAHASA
Adalah kalimat atau perkataan yang susunannya tetap dan biasanya mengiaskan maksud tertentu.
Contoh : Menerima ayam di dalam telor = Memastikan sesuatu yang tidak mungkin
Mencabik baju di dada = Menceritakan aib sendiri kepada orang lain
Bau busuk tidak berbangkai = Fitnah yang tidak terbukti kebenarannya
UJI LATIH MANDIRI
1. Cermatilah kutipan puisi berikut dengan seksama!
Andai esok tak ada lagi mentari
Arah langkah terhenti seketika
Langit berubah warna kelabu
…………
Bunga-bunga mendadak layu
Kalimat bermajas yang tepat untuk melengkapi bagian rumpang puisi tersebut adalah …… (UN 2006)
  1. Gerimis pun mulai reda lagi
  2. Udara dingin sekali
  3. Angin dan embun pagi berhenti menyapa
  4. Tanpa lentera akan gelap sekali
  5. Pembawa berita bercerita
2. Lonjakan harga lada yang menjadi tulang punggung Pulau Bangka benar-benar mampu menyelamatkan wilayah itu.
Ungkapan tulang punggung pada kalimat di atas bermakna ….
a. Sandaran b. Tumpuan c. Topangan d. Andalan e. Dukungan
3. Bacalah dialog berikut dengan seksama!
Nita : Fik, kamu mengerti tidak akubat orang yang suka mengonsumsi narkoba?
Ifik : Tahu, Kak. Kan sudah diajarkan dan dijelaskan panjang lebar olah dokter sekolah kami.
Nita : Tetapi, mengapa kamu tidak melarang temanmu si Kiki.
Ifik : Kak Nita saja yang memberitahukan karena kalau saya, tidak mau menurut.
Nita : Ya, kamu jangan mencontoh dia ya. Kalau sudah terperangkap menyesal juga tidak ada gunanya. Ibarat peribahasa ….
Peribahasa yang tepat untuk melanjutkan dialog tersebut adalah …. (UN 2006)
a. Bergantung di akar lapuk d. Berumah di tepi pantai
b. Nasi sudah menjadi bubur e. Besar kapal besar gelombang
c. Menangguk di air keruh
4. Sumbanganku ini hanya merupakan setitik air dalam samudera yang luas.
Pernyataan di atas menggunakan majas …. (UN 2005)
a. Personifikasi b. Paradoks c. Asosiasi d. Metafora e. Litotes
5. Majas metonomia terdapat dalam kalimat ….
a. Dia merasa kesepian di tengan-tengah keramaian pesta ini.
b. Kenaikan harga-harga bahan bangunan terasa sampai mencekik leher.
c. Indonesia berhasil merebut piala Thomas Cup untuk kedelapan kalinya.
d. Kemarin ayah pergi ke Singapura naik garuda
e. Perpustakaan adalah gudang ilmu yang tidak akan habis-habisnya.
6. Anak yang besar kepala itu tidak disukai teman-temannya.
Ungkapan yang semakna dengan ungkapan yang digunakan dalam kalimat di atas adalah …
  1. Pak Arman menjadi stress karena ditinggal buah hatinya.
  2. Hati-hati duduk dengan orang yang panjang tangan.
  3. Orang tua itu senang sekali karena jantung hatinya berhasil.
  4. Anak yang bermuka dua itu dibenci teman-temannya.
  5. Orang kaya baru biasanya bersifat tinggi hati.
7. Kita nanti hanya makan angina saja.
Makna ungkapan makan angina di atas adalah …
a. Berjalan-jalan untuk mencari angina segar d. Bergembira sambil menghirup udara bersih
b. Duduk-duduk sekadar menghabiskan waktu e. Mengajak teman untuk bersenang-senang
c. Diam tenang tidak menggangu orang lain

majass

Majas
perbandingan
Artikel utama
untuk bagian ini
adalah: Majas
perbandingan
1. Alegori:
Menyatakan
dengan cara lain,
melalui kiasan
atau
penggambaran.
Contoh: Perjalanan
hidup manusia
seperti sungai
yang mengalir
menyusuri tebing-
tebing, yang
kadang-kadang
sulit ditebak
kedalamannya,
yang rela
menerima segala
sampah, dan yang
pada akhirnya
berhenti ketika
bertemu dengan
laut.
2. Alusio: Pemakaian
ungkapan yang
tidak diselesaikan
karena sudah
dikenal. Contoh:
Sudah dua hari ia
tidak terlihat
batang hidungnya.
3. Simile:
Pengungkapan
dengan
perbandingan
eksplisit yang
dinyatakan
dengan kata
depan dan
penghubung,
seperti layaknya,
bagaikan, “
umpama”,
“ibarat”,”bak”,
bagai”. contoh: Kau
umpama air aku
bagai minyaknya,
bagaikan Qais dan
Laila yang
dimabuk cinta
berkorban apa
saja.
4. Metafora:
Pengungkapan
berupa
perbandingan
analogis dengan
menghilangkan
kata seperti
layaknya,
bagaikan, dll.
contoh:
Waspadalah
terhadap lintah
darat
5. Antropomorfisme:
Metafora yang
menggunakan
kata atau bentuk
lain yang
berhubungan
dengan manusia
untuk hal yang
bukan manusia.
6. Sinestesia: Majas
yang berupa
suatu ungkapan
rasa dari suatu
indra yang
dicurahkan lewat
ungkapan rasa
indra lainnya.
7. Antonomasia:
Penggunaan sifat
sebagai nama diri
atau nama diri lain
sebagai nama
jenis.
8. Aptronim:
Pemberian nama
yang cocok
dengan sifat atau
pekerjaan orang.
9. Metonimia:
Pengungkapan
berupa
penggunaan nama
untuk benda lain
yang menjadi
merek, ciri khas,
atau atribut.
10. Hipokorisme:
Penggunaan nama
timangan atau
kata yang dipakai
untuk
menunjukkan
hubungan karib.
11. Litotes: Ungkapan
berupa penurunan
kualitas suatu
fakta dengan
tujuan
merendahkan diri.
12. Hiperbola:
Pengungkapan
yang melebih-
lebihkan
kenyataan
sehingga
kenyataan
tersebut menjadi
tidak masuk akal.
13. Personifikasi:
Pengungkapan
dengan
menggunakan
perilaku manusia
yang diberikan
kepada sesuatu
yang bukan
manusia.
14. Depersonifikasi:
Pengungkapan
dengan tidak
menjadikan
benda-benda mati
atau tidak
bernyawa.
15. Pars pro toto:
Pengungkapan
sebagian dari
objek untuk
menunjukkan
keseluruhan objek.
16. Totum pro parte:
Pengungkapan
keseluruhan objek
padahal yang
dimaksud hanya
sebagian.
17. Eufimisme:
Pengungkapan
kata-kata yang
dipandang tabu
atau dirasa kasar
dengan kata-kata
lain yang lebih
pantas atau
dianggap halus.
18. Disfemisme:
Pengungkapan
pernyataan tabu
atau yang dirasa
kurang pantas
sebagaimana
adanya.
19. Fabel: Menyatakan
perilaku binatang
sebagai manusia
yang dapat
berpikir dan
bertutur kata.
20. Parabel: Ungkapan
pelajaran atau nilai
tetapi dikiaskan
atau disamarkan
dalam cerita.
21. Perifrasa:
Ungkapan yang
panjang sebagai
pengganti
ungkapan yang
lebih pendek.
22. Eponim:
Menjadikan nama
orang sebagai
tempat atau
pranata.
23. Simbolik:
Melukiskan
sesuatu dengan
menggunakan
simbol atau
lambang untuk
menyatakan
maksud.
24. Asosiasi:
perbandingan
terhadap dua hal
yang berbeda,
namun dinyatakan
sama.
Majas sindiran
Artikel utama
untuk bagian ini
adalah: Majas sindiran
1. Ironi: Sindiran
dengan
menyembunyikan
fakta yang
sebenarnya dan
mengatakan
kebalikan dari
fakta tersebut.
2. Sarkasme:
Sindiran langsung
dan kasar.
3. Sinisme: Ungkapan
yang bersifat
mencemooh
pikiran atau ide
bahwa kebaikan
terdapat pada
manusia (lebih
kasar dari ironi).
4. Satire: Ungkapan
yang
menggunakan
sarkasme, ironi,
atau parodi, untuk
mengecam atau
menertawakan
gagasan,
kebiasaan, dll.
5. Innuendo: Sindiran
yang bersifat
mengecilkan fakta
sesungguhnya.
Majas penegasan
Artikel utama
untuk bagian ini
adalah: Majas
penegasan
1. Apofasis:
Penegasan
dengan cara
seolah-olah
menyangkal yang
ditegaskan.
2. Pleonasme:
Menambahkan
keterangan pada
pernyataan yang
sudah jelas atau
menambahkan
keterangan yang
sebenarnya tidak
diperlukan.
3. Repetisi:
Perulangan kata,
frasa, dan klausa
yang sama dalam
suatu kalimat.
4. Pararima:
Pengulangan
konsonan awal
dan akhir dalam
kata atau bagian
kata yang
berlainan.
5. Aliterasi: Repetisi
konsonan pada
awal kata secara
berurutan.
6. Paralelisme:
Pengungkapan
dengan
menggunakan
kata, frasa, atau
klausa yang
sejajar.
7. Tautologi:
Pengulangan kata
dengan
menggunakan
sinonimnya.
8. Sigmatisme:
Pengulangan bunyi
“s” untuk efek
tertentu.
9. Antanaklasis:
Menggunakan
perulangan kata
yang sama, tetapi
dengan makna
yang berlainan.
10. Klimaks:
Pemaparan pikiran
atau hal secara
berturut-turut
dari yang
sederhana/kurang
penting
meningkat kepada
hal yang
kompleks/lebih
penting.
11. Antiklimaks:
Pemaparan pikiran
atau hal secara
berturut-turut
dari yang
kompleks/lebih
penting menurun
kepada hal yang
sederhana/kurang
penting.
12. Inversi:
Menyebutkan
terlebih dahulu
predikat dalam
suatu kalimat
sebelum
subjeknya.
13. Retoris: Ungkapan
pertanyaan yang
jawabannya telah
terkandung di
dalam pertanyaan
tersebut.
14. Elipsis:
Penghilangan satu
atau beberapa
unsur kalimat,
yang dalam
susunan normal
unsur tersebut
seharusnya ada.
15. Koreksio:
Ungkapan dengan
menyebutkan hal-
hal yang dianggap
keliru atau kurang
tepat, kemudian
disebutkan
maksud yang
sesungguhnya.
16. Polisindenton:
Pengungkapan
suatu kalimat
atau wacana,
dihubungkan
dengan kata
penghubung.
17. Asindeton:
Pengungkapan
suatu kalimat
atau wacana
tanpa kata
penghubung.
18. Interupsi:
Ungkapan berupa
penyisipan
keterangan
tambahan di
antara unsur-
unsur kalimat.
19. Ekskalamasio:
Ungkapan dengan
menggunakan
kata-kata seru.
20. Enumerasio:
Ungkapan
penegasan berupa
penguraian bagian
demi bagian suatu
keseluruhan.
21. Preterito:
Ungkapan
penegasan
dengan cara
menyembunyikan
maksud yang
sebenarnya.
22. Alonim:
Penggunaan
varian dari nama
untuk
menegaskan.
23. Kolokasi: Asosiasi
tetap antara
suatu kata
dengan kata lain
yang
berdampingan
dalam kalimat.
24. Silepsis:
Penggunaan satu
kata yang
mempunyai lebih
dari satu makna
dan yang
berfungsi dalam
lebih dari satu
konstruksi
sintaksis.
25. Zeugma: Silepsi
dengan
menggunakan
kata yang tidak
logis dan tidak
gramatis untuk
konstruksi
sintaksis yang
kedua, sehingga
menjadi kalimat
yang rancu.
Majas
pertentangan
Artikel utama
untuk bagian ini
adalah: Majas
pertentangan
1. Paradoks:
Pengungkapan
dengan
menyatakan dua
hal yang seolah-
olah
bertentangan,
namun
sebenarnya
keduanya benar.
2. Oksimoron:
Paradoks dalam
satu frasa.
3. Antitesis:
Pengungkapan
dengan
menggunakan
kata-kata yang
berlawanan arti
satu dengan yang
lainnya.
4. Kontradiksi
interminus :
Pernyataan yang
bersifat
menyangkal yang
telah disebutkan
pada bagian
sebelumnya.
5. Anakronisme:
Ungkapan yang
mengandung
ketidaksesuaian
dengan antara
peristiwa dengan
waktunya.

majas

Majas adalah Gaya bahasa dalam bentuk tulisan maupun lisan yang dipakai dalam suatu karangan yang bertujuan untuk mewakili perasaan dan pikiran si pengarang.

Macam-Macam Majas dan Contohnya :

1) Majas Metafora adalah Gabungan dua hal yang berbeda yang dapat membentuk suatu pengertian baru. Contoh : Raja siang, kambing hitam
2) Majas Alegori adalah Majas perbandingan yang memperlihatkan suatu perbandingan yang utuh. Contoh : Suami sebagai nahkoda, Istri sebagai juru mudi
3) Majas Personifikasi adalah Majas yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat – sifat manusia kepada benda, sehingga benda mati seolah-olah hidup. Contoh : Awan menari – nari di angkasa, baru saja berjalan 8 km mobilnya sudah batuk – batuk
4) Majas Perumpamaan ( Majas Asosiasi ) adalah Suatu perbandingan dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama. Contoh : Bagaikan harimau pulang kelaparan, seperti menyulam di kain yang lapuk
5) Majas Antilesis adalah Gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang berlawanan. Contoh : Air susu dibalas air tuba
6) Majas Hiperbola adalah Suatu gaya bahasa yang bersifat melebih – lebihkan. Contoh : Ibu terkejut setengah mati, ketika mendengar anaknya kecelakaan
7) Majas Ironi adalah Gaya bahasa yang bersifat menyindir dengan halus. Contoh : Bagus sekali tulisanmu, sampai – sampai tidak bisa dibaca
8 ) Majas Litotes adalah Majas yang digunakan untuk mengecilkan kenyataan dengan tujuan untuk merendahkan hati. Contoh : Mampirlah ke gubuk saya ( Padahal rumahnya besar dan mewah )
9) Majas Sinisme adalah Majas yang menyatakan sindiran secara langsung. Contoh : Perilakumu membuatku kesal
10) Majas Oksimoron adalah Majas yang antarbagiannya menyatakan sesuatu yang bertentangan. Contoh : Cinta membuatnya bahagia, tetapi juga membuatnya menangis
11) Majas Metonimia adalah Majas yang memakai merek suatu barang. Contoh : Kami ke rumah nenek naik kijang
12) Majas Alusio adalah Majas yang mepergunakan peribahasa / kata – kata yang artinya diketahui umum. Contoh : Upacara ini mengingatkan aku pada proklamasi kemerdekaan tahun 1945
13) Majas Eufemisme adalah Majas yang menggunakan kata – kata / ungkapan halus / sopan. Contoh : Para tunakarya itu perlu diperhatikan
14) Majas Elipsis adalah Majas yang manghilangkan suatu unsure kalimat. Contoh : Kami ke rumah nenek ( penghilangan predikat pergi )
15) Majas Inversi adalah Majas yang dinyatakan oleh pangubahan suatu kalimat. Contoh : Aku dan dia telah bertemu > Telah bertemu, aku dan dia
16) Majas Pleonasme adalah Majas yang menggunakan kata – kata secara berlebihan dengan maksud untuk menegaskan arti suatu kata. Contoh : Mari naik ke atas agar dapat meliahat pemandangan
17) Majas Antiklimaks adalah Majas yang menyatakan sesuatu hal berturut – turut yang makin lama makin menurun. Contoh : Para bupati, para camat, dan para kepala desa
18) Majas Klimaks adalah Majas yang menyatakan beberapa hal berturut – turut yang makin lama makin mendebat. Contoh : Semua anak – anak, remaja, dewasa, orang tua dan kakek
19) Majas Retoris adalah Majas yang berupa kalimat tanya yang jawabanya sudah diketahui. Contoh : Siapakah yang tidak ingin hidup ?
20) Majas Aliterasi adalah Majas yang memanfaatkan kata – kata yang bunyi awalnya sama. Contoh : Inikah Indahnya Impian ?
21) Majas Antanaklasis adalah Majas yang mengandung ulangan kata yang sama dengan makna yang berbeda. Contoh : Ibu membawa buah tangan, yaitu buah apel merah
22) Majas Repetisi adalah Majas perulangan kata – kata sebagai penegasan. Contoh : Selamat tinggal pacarku, selamat tinggal kekasihku
23) Majas Paralelisme adalah Majas perulangan sebagaimana halnya repetisi, disusun dalam baris yang berbeda. Contoh : Hati ini biru Hati ini lagu Hati ini debu
24) Majas Kiasmus adalah Majas yang berisi perulangan dan sekaligus mengandung inverse. Contoh : Mereka yang kaya merasa miskin, dan yang miskin merasa kaya
25) Majas Simbolik adalah Majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan membandingkan dengan benda – benda lain. Contoh : Dia menjadi lintah darat
26) Majas Antonomasia adalah Majas yang menyebutkan nama lain terhadap seseorang yang berdasarkan cirri / sifat menonjol yang dimilikinya. Contoh : Si pincang, Si jangkung, Si kribo
27) Majas Tautologi adalah Majas yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan kata – kata yang sama artinya ( bersinonim ) untuk mempertegas arti. Contoh : Saya khawatir dan was – was dengannya